Kenapa ya beberapa hari ini saya ketemu Klien neko-neko mulu? Mungkin kesabaran saya lagi diuji. Kemarin malam, klien yang lagi ada masalah karena kerjasamanya di bidang distributor air galon sedang dalam konflik. Dia meminjamkan uang sebesar 20 juta kepada rekan bisnisnya. Tanpa kuitansi pula.
Yang lucu, dia mengkaitkan persoalan utang piutangnya itu dengan perjanjian kerjasama yang saya buat. Padahal dalam perjanjian tak disebutkan kalau dia meminjamkan sejumlah uang kepada rekan bisnisnya.
Jadi, dia sama sekali gak punya bukti kalau rekannya itu berhutang pada dia. Yah, susah dong! Anehnya lagi, dia malah nanya ke saya, yang buat perjanjian kerjasama ini siapa?
Saya jawab aja : "Ya, sayalah. Kan saya Notarisnya. Tapi...saya buat akta ini bukan asal ngarang. Saya buat berdasarkan kemauan yang disampaikan para pihak. Waktu saya bacakan akta ini dan jelaskan pada ibu, kan ibu bilang sudah mengerti. Bahkan, saya sudah tanya, apakah benar maunya sepert ini? Ibu jawab iya."
Sang klien menjawab : "Iya, tapi...waktu itu saya gak ngerti masalah bisnis air galon."
"Kalo gak ngerti, kenapa ibu iya-iya aja waktu saya tanya? Kenapa ibu gak ngomong? Kalo ibu sudah tanda tangan berarti ibu sudah setuju dengan isi perjanjian ini." Saya mencoba menjelaskan.
Alhasil, dia dan rekan bisnisnya itu mau ketemu jam 12 siang di kantor saya untuk membicarakan perjanjian mereka. Mungkin mau dibatalkan. Tetapi, ketika jam 12 tiba mereka tidak datang. Saya pun istirahat makan siang.
Ketika saya sedang makan, tiba-tiba dia telpon. Staf saya bilang, kalau saya sedang istirahat makan. Eh, masih ngeyel. Dia cerita kepada stafnya kalau adiknya sedang ribut dengan rekan bisnisnya. Sampai pak RT manggil polisi. Terus, dia nanya apakah saya ada rencana keluar.
Sebel banget kan! Urusan adiknya ribut kok mesti cari saya. Pasti mereka lagi meributkan utang 20 juta yang belum dibayar rekan bisnisnya. Lha, soal itu kan gak dicantumkan dalam perjanjian. Kenapa saya harus dibawa-bawa?
Tetapi..sampai sore hari, dia nggak telpon saya lagi. Teman saya mengusulkan untuk tidak meladenin klien seperti ini. Saya tidak bisa dipanggil sebagai saksi kalau tidak ada surat panggilan dari polisi. Apalagi, saya sama sekali tidak tahu menahu masalah hutang 20 juta itu. Itu urusan pribadi mereka.
Yah, saya tahu dia panik dan ingin uangnya kembali. Tetapi jangan seenak udelnya dong. Saya bukan pengacara. Untuk menangani kasusnya, dia harus cari pengacara. Karena bukan wewenang saya untuk ikut campur urusannya.
Duuh,padahal kemarin saya sudah jelaskan agar dia menempuh cara damai. Pakai pengacara kan mahal. Utang 20 juta belum tentu kembali. Sementara, biaya pengacara mungkin lebih dari itu. Belum lagi kalau berurusan dengan police. Tau sendirilah.....
Huuuh, cape banget deh ngadepin Klien dududz kuardat kayak gini.
wakakkakak..maksudnya yang di fb gitu ya......heehehheh
BalasHapusYa udah mbak, bisa buat pengalaman dan cerita ke anak cucu ntar...heheheheh
Wah ngadepin klien spt itu emang menguras emosi ya ? hehehe... Ya mau gimana lagi.., mau tak mau ya kudu sabar.. ^_^
BalasHapussabaaarrrr... emang masih banyak yang nggak ngerti hukum hihi... termasuk aku keknya...
BalasHapussetuju joe....sabar...siiip joe...kamu ternyata baek juga ya... :)
BalasHapusembaaakkkk..kok lom nongol...? heheheheh
BalasHapusiya mana ya yang punya rumah... *clingak clinguk* ada tipi nganggur nggak ya hihi...
BalasHapusnih aku bawakan tv,dvd dan camilan buat kamu, JOe.
BalasHapus