Selain pelupa, staf yang kemarin saya ceritakan di SINI , juga punya karakter pendiam. Tapi 'diam' nya sangat aneh. Diam yang saya maksud adalah ENGGAK BISA BASA-BASI. Padahal, dalam dunia kerja, basa-basi itu sangat diperlukan. Apalagi jika pekerjaan yang berkaitan dengan pemberian jasa kepada klien. Tentu, bibir ini harus sedikit dibuka.
Untunglah, selama ini semua klien langsung berhubungan dengan saya. Tidak pernah saya serahkan kepada staf karena saya memang tipe perfeksionis. Selain itu, klien maunya ditangani langsung oleh saya. Apalagi jika berkaitan dengan biaya akta. Yang bisa memberi discount 'kan saya, bukan staf.
So, saya tidak terlalu mempermasalahkan kalau dia enggak bisa basa-basi sama klien. Tapi, karena kantor saya masih gabung dengan rumah ortu yang notabene adalah tempat tinggal saya dan ortu, seharusnya dia bisa 'basa-basi' sedikit terhadap ortu saya.
Sebagai contoh : setiap pagi dia tiba di rumah saya, untuk naik ke lantai 2 (tempat kantor saya bercokol) pasti melewati ruang tamu dimana papa saya sering duduk membaca koran pagi, tetapi dia enggak bisa mengucapkan SELAMAT PAGI, PAK...
Begitu pula ketika sedang mengambil gelas minum di lemari dapur, dia tidak bisa bilang pada mama saya : Permisi, bu...saya mau ambil gelas. Padahal, posisi mama saya sedang berdiri dekat lemari dapur.
Pernah suatu ketika, mama saya sedang mengiris bawang dekat lemari dapur, tiba-tiba dia nyelonong ambil gelas tanpa bilang apa-apa. Mama saya sampai kaget, kok tahu-tahu ada orang di belakangnya.
Dulu, ketika saya meminta dia untuk makan siang bersama saya karena di sekitar kompleks rumah saya tidak ada warteg atau restoran yang cukup dekat, setiap kali makan siang, dia tidak pernah menawari orang tua saya. Sekadar basa basi seperti : MAKAN, BU....PAK....
Tentu saja, papa saya jadi kesal melihat sifatnya. Dia dianggap tidak punya sopan santun. Lalu, saya pun memberitahu dia untuk bisa sedikit basa-basi. Dan, setelah diberitahu, dia mulai bisa mengucapkan selamat pagi ketika baru tiba, menawarkan makan setiap kali makan siang, pamit pada orang tua saya setiap kali dia mau pulang.
Tapi, hanya beberapa bulan saja. Tak lama kemudian, dia kembali pada sifat aslinya.
Saya tegur lagi, dia berubah lagi. Lalu...lupa lagi. Sampai akhirnya, saya malas memberitahu dia untuk bersikap sopan. Saya sudah jelaskan, bahwa meskipun saya Boss-nya tetapi dia harus bisa bersikap ramah dan hormat terhadap penghuni lain di rumah saya. Dia hanya senyum kecil menanggapi teguran saya.
Karena papa saya selalu kesal melihat sifatnya yang suka lupa nawarin makan, dll itu maka saya pun tidak lagi mengajak dia makan siang bersama. Saya beri saja dia uang makan walaupun dalam perjanjian kerja, gaji yang saya berikan sudah termasuk uang makan. Tapi, sudahlah...daripada saya pusing mendengarkan ocehan papa tentang sifatnya.
Terus terang, saya juga bingung kenapa staf saya ini punya sifat aneh begini? Dibilang pemalu, juga enggak. Kalau lagi mau cerita, dia bisa cerita juga. Tapi, entah mengapa mulutnya memang susah bersuara. Kadang, dia juga lupa bilang : Selamat pagi, bu. Padahal, jelas-jelas saya ada di ruang kerja. Tahu-tahu dia sudah nongol dan duduk di kursinya, siap mengetik. Kadang-kadang, bisa seharian kami kerja sambil diam-diaman. Kecuali saya tanya dan perintahkan ini itu baru dia jawab.
Ajaib banget deh! Saya sampai pernah tanya, apakah waktu kecil dia sering sakit-sakitan? Ternyata memang iya. Apakah itu pengaruh karena dia pernah sakit step? Entahlah. Yang pasti, dia memang kurang smart. Tapi saya pertahankan karena saya lihat dia cukup jujur. Kalau saya perintahkan tugas luar untuk membayar sesuatu, dia bisa dipercaya.
Akh, mungkin nanti kalau saya sudah punya kantor yang lebih lapang, tidak lagi gabung dengan rumah, saya akan tambah pegawai baru yang lebih smart. Saya harus mencari staf yang punya background pendidikan dari Fak Hukum.
pertamaaax... kyknya sih, hehe..
BalasHapuslam kenal buat yg punya blog ini ^o^
Hiiiihiih...ini intermezo stafnya ya mbak...hehehehehehe...review model barunya asyiiik mbak....kekekekeekekke!!!!!
BalasHapusbtw sifat manusia aneh2 dan nyentrik2 ya mbak...nikmati ajah wes mbak...hihihihih
@buwel : makasih Wel. bisa dibilang ini intermezzo tapi bukan review, bro. ini bener2 kok. anggap aja curhat aku selaku boss. he he he....iya, lama2 aku kebal ama sifatnya.
BalasHapusIde terakhir bagus tuh. Ttg penyakitnya, mungkin memang berpengaruh sama kurang smartnya, tp jelas ga ada pengaruh ama sopan santunnya. Itu sih dari pendidikan keluarga dan kebiasaan aja.
BalasHapusSopan santun itu berawal dari kebiasaan dan pendidikan. Baik yang didapat ditengah keluarga, lingkungan atau dibangku pendidikan.
BalasHapusBtw, setiap manusia punya keunikan tersendiri.
Pegawai mba Fanny kayaknya ada-ada aja..ada yang tukang tilep, ada yang kurang sopan...kayaknya ada yang salah nih..! mba Fanny kurang galak atau terlalu baik hati...binun jadinya..he..he
BalasHapus@noor : kurang galak kali ya....
BalasHapus