Selasa, 11 Agustus 2009

KAMU SEPERTI ITU, GAK? (Bagian I)

Minggu lalu, saya nemenin seorang teman yang ingin tanda tangan akte di depan Notaris dalam rangka pembelian sebuah rumah di daerah Gading Serpong.
Dia minta ditemani karena merasa gak ngerti dengan tetek bengek akte notaris. Plus takut dikibulin. Beberapa hari sebelumnya dia memang telpon ke saya agar saya menyediakan waktu untuk nemenin dia. Dan karena Gading Serpong tuh jauh bangeeet dari rumah saya, maka seharian deh saya pergi. Sampai gak sempet ngurusin blog dan ditanyain sama dede Buwel . "Mbak Fanny kemana sih?"

Emang susah nih jadi seleb blogger (halaahh..soknya), gak nongol sehari aja dikangenin orang sekampung. Gubraakk....air laut siapa yang asinin? Sombong pisan euy! Hi hi hi....

Oke, back to the topic.



Tanda tangan akta dilakukan di kantor pemasaran Summarecon karena rumah yang dibeli teman saya ini memang milik grup nya Summarecon, sebuah perusahaan developer yang bonafide. Kami ke sana naik taksi (secara gak ada supir dan kami berdua gak mahir nyetir dan...teman saya baru aja menjual mobilnya buat nambahin duit beli rumah). Tiba di sana, ibu Notaris dan pihak marketing Bank (belinya kredit sih) sudah menanti. Maklum, naik taksi jadi waktunya gak bisa on time karena taksinya datang telat.

Sudah pake acara telat, teman saya rewel pula. Semua dokumen termasuk akta dibawah tangan seperti : PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) dan surat-surat lainnya dari pihak Bank, pihak developer dibaca satu demi satu. Bagus sih! Itu berarti teliti sebelum teken. Tetapi, sang ibu Notaris sudah seperti cacing kepanasan karena dia merasa teman saya bertele-tele. Tanya ini itu. Mana ada satu pasal yang - menurutnya - bertentangan dengan kenyataan. Rumah yang ia beli sudah siap huni tetapi ada pasal yang mencantumkan, rumah akan diserahkan 8 bulan lagi.

Teman saya pun protes. Minta direnvoi (itu istilah hukumnya, bahasa sehari-harinya di-revisi). Sementara dari pihak developer merasa itu sudah standar jadi gak bisa berubah. Kalo toh mau berubah harus tanya dulu ke Divisi Legal dan perlu approval dari manajemen. Mereka bilang, rumah akan diserahkan dalam waktu yang diperjanjikan. Tidak akan selama itu.

Tentu aja teman saya keukeuh minta diganti karena secara lisan, dia dijanjikan akan bisa menempati rumah 2 bulan lagi. Nah, kalo ditulis 8 bulan lagi, kan gak sesuai banget. Nanti, tau-tau 8 bulan lagi baru bisa menempati rumah itu. Benar. Semua yang dikatakan teman saya benar. Tapi, masalahnya..dimana-mana yang namanya perjanjian baku itu ya seperti itu. Gak semudah membalikkan telapak tangan untuk menggantinya.

Alhasil, setelah alot berdebat, sang marketing dari pihak developer menjanjikan akan memberikan semacam surat pernyataan tentang jangka waktu penyerahan rumah. Baru deh teman saya tenang.

Sayapun diminta dia untuk membantu baca pasal demi pasal. Aduuh! Mabok deh! Saya bilang ke teman saya : "Lain kali harus minta draft dulu kalo elo gak yakin. Kasihan tuh bu Notaris dah nunggu lama. "

Teman saya cuma nyengir. Saya pun terpaksa membaca kilat pasal-pasal yang ada.
Tapi sebenarnya gak ada gunanya juga saya baca karena kalo toh mau protes, gak bisa langsung disetujui.

Dan...yang namanya developer pasti sudah punya perjanjian standar yang susah dikutak katik. Apalagi, rumah yang dibeli bukan rumah berharga milyaran rupiah. Mana mau mereka merubah pasall-pasal yang ada.

Untungnya, teman saya percaya ketika saya bilang gak ada pasal yang bisa merugikan dirinya. Yang penting, obyek rumah dan harga jual sudah benar sesuai yang diperjanjikan sebelumnya.

Urusan perjanjian dengan developer selesai. Sekarang, urusan dengan akta Perjanjian Kredit dan akta Pemberian Jaminan (yang dibuat oleh Notaris) karena rumah dibeli dengan meminjam uang dari Bank. Bu Notaris yang ramah tapi sedikit galak itupun tampak sudah gak sabar banget.

Dia sampai bilang :"Biasanya untuk waktu 1 jam, saya bisa menghandel 5 akta. Ini sudah satu jam lebih lho."

Suaranya sih gak judes tapi...ada nada keki sedikit. He he he....
Saya bisa memakluminya karena saya kan juga Notaris. Lagipula, waktu bagi seorang Notaris laris manis tentunya amat berharga. Maka, saya senggol lengan teman saya dan minta dia untuk tanda tangan akta Notariil.

Dasar teman saya ini BIBI TITI TELITI, lagi-lagi dia membaca pasal demi pasal dalam akta notariil tersebut. Sang bu Notaris terpaksa mengambil alih. Dia membacakan inti dari pasal demi pasal dengan cepat disertai penjelasan sesingkat mungkin. Soalnya, kalo teman saya yang baca, bisa-bisa makan waktu 2 jam lagi. He he he....

Biasanya, dalam akad kredit dengan Bank yang berkaitan dengan jual beli rumah, akta notariil memang gak dibacakan secara lengkap. Cukup point-point penting aja. Tapi, karena teman saya ini orangnya gak percayaan alias curigaan, maka akta dibacakan.

Usai tanda tangan akta, teman saya pun berbisik pada saya :
"Notarisnya gak ramah. Dia pasti keki berat sama aku. Udah telat datang, bawel pula. Kamu seperti itu, gak? Kan kamu Notaris."


7 komentar:

  1. pertamaxx....


    "Jd gmn? km seperti itu gak?"

    hehehehe

    BalasHapus
  2. saya jd teringat ada cerita dosen saya yg begini..

    "Dia kerja di salah satu kantor, dan temen"nya pd suka korupsi kecil"an.. (tetp korupsi)", dia gak ikut dia di jauhi, dia ikutan merasa bersalah.." So...? Inilah pekerjaanku, This is my job...

    hmmmm

    BalasHapus
  3. jawabannya di postingan berikut ya.

    BalasHapus
  4. ditunggu jawabanya mbak ...heheheeh

    BalasHapus
  5. hehe..ikut penasaran jawabannya nih mbak

    BalasHapus
  6. Memang sesuai pengalamanku beli lalu jual rumah, biasanya poin2 penting saja yg dibahas. Asal kita tahu notaris itu bagus reputasinya, rasanya tak perlu kita seteliti itu. dan aku ga nyalahin si notaris, karena waktu dia kan berharga. Kurasa dia bukan ga ramah, tapi memang temen kamu yg kelewatan. hehehe... Kalo Fanny sih kayaknya orgnya sabar deh

    BalasHapus
  7. @fanda : he he he..sabar sekali sih enggak. belum tahu kalo saya marah ya? he hehe...

    BalasHapus