Jumat, 25 September 2009

ORDER DI HARI LIBUR

Beberapa hari lalu, saat sedang asik bw, hape saya berbunyi. Hmm, siapa sih? Lagi libur gini kok nelpon sih? Nomornya gak dikenal pula. Nyesel juga nih nyalain hape. Secara saya paling malas diganggu kalo lagi ngeblog. Mana inet lemotnya amit-amit. Mau bw ke satu blog aja kayak mau upload foto segede bagong.

Meskipun malas, saya terima juga tuh panggilan. Ternyata dari salah seorang klien. Astaga! Rasanya saya sudah ingin bilang, "Maaf, pak...Kalau mau bicara soal pekerjaan, nanti saja tgl 28. Saat ini kantor saya sedang libur."

Tetapi, seperti biasa semua ucapan itu hanya muncul dalam hati. Klien kan raja. Masa sih dijutekin? Alhasil, saya tanya saja ada keperluan apa.



Ternyata...oh, ternyata dia minta dibuatkan akta. Bukan cuma 1 akta tapi 4 akta. Tentu saja bukan sekarang buatnya. Nanti setelah liburan selesai.
Tapi karena ada masalah urgent yang ingin ditanyakan, dia terpaksa menelpon saya.

Yasuds, jadilah konsultasi gratis via telpon di hari libur itu. Hmm, untung juga hape gak dimatikan. Padahal, saya sering mematikan hape bila hari libur. Karena saya nggak mau diganggu klien-klien yang suka seenaknya nelpon meski tahu itu hari libur.

Yah, lumayan deh! 4 akta bisa untuk membayar biaya operasional kantor bulan depan dan sisanya masih bisa buat beli novel. He he he.....


ORDER DI HARI LIBUR

Beberapa hari lalu, saat sedang asik bw, hape saya berbunyi. Hmm, siapa sih? Lagi libur gini kok nelpon sih? Nomornya gak dikenal pula. Nyesel juga nih nyalain hape. Secara saya paling malas diganggu kalo lagi ngeblog. Mana inet lemotnya amit-amit. Mau bw ke satu blog aja kayak mau upload foto segede bagong.

Meskipun malas, saya terima juga tuh panggilan. Ternyata dari salah seorang klien. Astaga! Rasanya saya sudah ingin bilang, "Maaf, pak...Kalau mau bicara soal pekerjaan, nanti saja tgl 28. Saat ini kantor saya sedang libur."

Tetapi, seperti biasa semua ucapan itu hanya muncul dalam hati. Klien kan raja. Masa sih dijutekin? Alhasil, saya tanya saja ada keperluan apa.



Ternyata...oh, ternyata dia minta dibuatkan akta. Bukan cuma 1 akta tapi 4 akta. Tentu saja bukan sekarang buatnya. Nanti setelah liburan selesai.
Tapi karena ada masalah urgent yang ingin ditanyakan, dia terpaksa menelpon saya.

Yasuds, jadilah konsultasi gratis via telpon di hari libur itu. Hmm, untung juga hape gak dimatikan. Padahal, saya sering mematikan hape bila hari libur. Karena saya nggak mau diganggu klien-klien yang suka seenaknya nelpon meski tahu itu hari libur.

Yah, lumayan deh! 4 akta bisa untuk membayar biaya operasional kantor bulan depan dan sisanya masih bisa buat beli novel. He he he.....


Kamis, 17 September 2009

NOTARIS BUKAN LUMBUNG DUIT

Saya suka heran dengan persepsi orang pada umumnya tentang seorang Notaris. Banyak yang berpikir, kami ini mudah memperoleh duit, banyak duitnya, kaya raya, dll. Enggak heran, ketika orang tahu pekerjaan saya, timbul komentar-komentar seperti ini :

“Wah, Notaris. Asik dong!”

“Tanda tangannya mahal lho! Yang bisa nyaingin cuma gubernur BI.”

“Banyak duit dong! Kerjanya enteng, tinggal teken, duit datang.”

Yaelah, susah deh kalau ngomong sama manusia yang enggak ngerti resiko dan tanggung jawab sebagai Notaris. Paling kalo sudah begitu, saya hanya bisa mesem-mesem. Kalo lagi rajin ngomong, biasanya saya akan jelaskan bahwa jadi Notaris tuh tanggung jawabnya dibawa mati, bla bla.bla…

Lagipula, enggak semua Notaris tuh koaya roaya. Enggak semua Notaris gampang mendapatkan doku, enggak semua Notaris tanda tangannya mahal. Alih-alih nyaingin tanda tangannya gubernur BI, mau dapat order aja susah. Karena enggak semua Notaris bisa bersikap koboy alias hajar terus yang penting duit masuk.

Masih ada Notaris yang idealis dan menjunjung tinggi jabatannya sehingga TIDAK SUDI melanggar Peraturan Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris. Masih banyak Notaris yang lebih memilih ketenangan dunia dan akhirat ketimbang uang yang sifatnya enggak kekal. Notaris-notaris semacam ini biasanya enggak termasuk kategori RICH. Mungkin masuk dalam golongan ENOUGH alias cukup makan, minum, pakaian dan enggak sampai meminta-minta. He he he….

Nah, karena persepsi tentang HOW RICH nya seorang Notaris, maka banyak orang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti yang dialami oleh rekan saya, seorang Notaris Bogor.

Suatu hari, teman saya ini (sebut saja namanya si Susy) berniat membeli buku Repertorium (salah satu buku yang wajib dimiliki para notaris) sama pak Budi (nama samaran), seorang penjual buku-buku administrasi Notaris. Tapi ketika ditanyakan harganya, ternyata pak Budi meminta harga yang lebih tinggi dari biasanya.
Tentu saja Susy kaget dan bilang begini :



“Lho, pak! Kok, jadi mahal begitu? Baru seminggu yang lalu, teman saya beli tuh buku. Harganya enggak semahal ini.”

“Ya..bu…kan bentar lagi lebaran. Ibu mesti kasih THR dong ke saya.”

Mendengar hal itu, Susy membatalkan niatnya beli buku sama pak Budi. Dia
menceritakan hal ini kepada saya sambil marah-marah.

“Masa sih dia minta THR sama gue? Emang dia pegawai gue? Udah bagus, gue mau beli buku sama dia. Kayak enggak ada penjual buku lainnya aja.”

Susy benar! Peraturan dari mana tuh menaikkan harga buku dengan alasan minta THR. Jangan mentang-mentang berhadapan dengan seorang Notaris, jadi seenaknya mau meminta-minta THR. Lagipula, mana ada kewajiban bayar THR kepada seorang penjual buku? Ada-ada saja tuh pak Budi. Matrenya gak ketulungan deh! Mencoba ambil kesempatan dalam kesempitan, akhirnya gigit jari. Bukunya jadi batal dibeli. Salah sendiri ‘kan?

Kejadian ini masih belum seberapa. Ketika saya masih bekerja sambil magang di sebuah kantor notaris, boss saya sering didatangi bu Santi (nama samaran) mantan seorang pegawai sebuah instansi pemerintah. Apa lagi yang dicari kalau bukan uang?

Bu Santi yang sudah pensiun ini selalu datang membawa anak perempuannya yang cacat mental. Mulanya, boss saya kasihan melihat anaknya. Beliau selalu memberikan sejumlah uang karena rasa kemanusiaan. Tapi, bu Santi jadi ketagihan. Setiap kali dia butuh uang, dia pasti ke kantor boss saya.

Lambat-laun boss saya jadi kesal sama bu Santi dan sering menolak bertemu dengannya. Bahkan, boss saya juga gak mau lagi memberinya uang. Ya iyalah, masa minta-minta terus? Emang boss saya gudang duit.

Lucunya, bu Santi ini seperti gak punya rasa malu. Kalau boss saya enggak ada, dia ngotot menunggu. Terpaksa deh, kami para karyawannya menelpon boss agar jangan kembali ke kantor buru-buru. Soalnya, kami juga sudah kesal sama kelakuan bu Santi. Minta kok maksa sih? Kadang, sudah diberikan sejumlah uang masih saja merasa kurang. Alasannya, anaknya butuh obat ini itu.

Duh, susahnya jadi Notaris. Selalu dianggap lumbung duit. Cape deeeh!


NOTARIS BUKAN LUMBUNG DUIT

Saya suka heran dengan persepsi orang pada umumnya tentang seorang Notaris. Banyak yang berpikir, kami ini mudah memperoleh duit, banyak duitnya, kaya raya, dll. Enggak heran, ketika orang tahu pekerjaan saya, timbul komentar-komentar seperti ini :

“Wah, Notaris. Asik dong!”

“Tanda tangannya mahal lho! Yang bisa nyaingin cuma gubernur BI.”

“Banyak duit dong! Kerjanya enteng, tinggal teken, duit datang.”

Yaelah, susah deh kalau ngomong sama manusia yang enggak ngerti resiko dan tanggung jawab sebagai Notaris. Paling kalo sudah begitu, saya hanya bisa mesem-mesem. Kalo lagi rajin ngomong, biasanya saya akan jelaskan bahwa jadi Notaris tuh tanggung jawabnya dibawa mati, bla bla.bla…

Lagipula, enggak semua Notaris tuh koaya roaya. Enggak semua Notaris gampang mendapatkan doku, enggak semua Notaris tanda tangannya mahal. Alih-alih nyaingin tanda tangannya gubernur BI, mau dapat order aja susah. Karena enggak semua Notaris bisa bersikap koboy alias hajar terus yang penting duit masuk.

Masih ada Notaris yang idealis dan menjunjung tinggi jabatannya sehingga TIDAK SUDI melanggar Peraturan Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris. Masih banyak Notaris yang lebih memilih ketenangan dunia dan akhirat ketimbang uang yang sifatnya enggak kekal. Notaris-notaris semacam ini biasanya enggak termasuk kategori RICH. Mungkin masuk dalam golongan ENOUGH alias cukup makan, minum, pakaian dan enggak sampai meminta-minta. He he he….

Nah, karena persepsi tentang HOW RICH nya seorang Notaris, maka banyak orang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti yang dialami oleh rekan saya, seorang Notaris Bogor.

Suatu hari, teman saya ini (sebut saja namanya si Susy) berniat membeli buku Repertorium (salah satu buku yang wajib dimiliki para notaris) sama pak Budi (nama samaran), seorang penjual buku-buku administrasi Notaris. Tapi ketika ditanyakan harganya, ternyata pak Budi meminta harga yang lebih tinggi dari biasanya.
Tentu saja Susy kaget dan bilang begini :



“Lho, pak! Kok, jadi mahal begitu? Baru seminggu yang lalu, teman saya beli tuh buku. Harganya enggak semahal ini.”

“Ya..bu…kan bentar lagi lebaran. Ibu mesti kasih THR dong ke saya.”

Mendengar hal itu, Susy membatalkan niatnya beli buku sama pak Budi. Dia
menceritakan hal ini kepada saya sambil marah-marah.

“Masa sih dia minta THR sama gue? Emang dia pegawai gue? Udah bagus, gue mau beli buku sama dia. Kayak enggak ada penjual buku lainnya aja.”

Susy benar! Peraturan dari mana tuh menaikkan harga buku dengan alasan minta THR. Jangan mentang-mentang berhadapan dengan seorang Notaris, jadi seenaknya mau meminta-minta THR. Lagipula, mana ada kewajiban bayar THR kepada seorang penjual buku? Ada-ada saja tuh pak Budi. Matrenya gak ketulungan deh! Mencoba ambil kesempatan dalam kesempitan, akhirnya gigit jari. Bukunya jadi batal dibeli. Salah sendiri ‘kan?

Kejadian ini masih belum seberapa. Ketika saya masih bekerja sambil magang di sebuah kantor notaris, boss saya sering didatangi bu Santi (nama samaran) mantan seorang pegawai sebuah instansi pemerintah. Apa lagi yang dicari kalau bukan uang?

Bu Santi yang sudah pensiun ini selalu datang membawa anak perempuannya yang cacat mental. Mulanya, boss saya kasihan melihat anaknya. Beliau selalu memberikan sejumlah uang karena rasa kemanusiaan. Tapi, bu Santi jadi ketagihan. Setiap kali dia butuh uang, dia pasti ke kantor boss saya.

Lambat-laun boss saya jadi kesal sama bu Santi dan sering menolak bertemu dengannya. Bahkan, boss saya juga gak mau lagi memberinya uang. Ya iyalah, masa minta-minta terus? Emang boss saya gudang duit.

Lucunya, bu Santi ini seperti gak punya rasa malu. Kalau boss saya enggak ada, dia ngotot menunggu. Terpaksa deh, kami para karyawannya menelpon boss agar jangan kembali ke kantor buru-buru. Soalnya, kami juga sudah kesal sama kelakuan bu Santi. Minta kok maksa sih? Kadang, sudah diberikan sejumlah uang masih saja merasa kurang. Alasannya, anaknya butuh obat ini itu.

Duh, susahnya jadi Notaris. Selalu dianggap lumbung duit. Cape deeeh!


Selasa, 15 September 2009

NALURI SEORANG AYAH

Dalam postingan KLIEN MALAM HARI , saya pernah menceritakan kalau saya malas terima klien malam hari. Tapi, yang namanya rejeki memang tidak bisa ditentukan oleh waktu. Rejeki bisa datang setiap saat dan bisa pergi setiap detik.

Suatu malam, saya sedang asik membaca koran ketika pintu pagar diketuk. Saya langsung menebak, jangan-jangan klien nih. Kebetulan, papa saya sedang ada di ruang tamu. Papa bangkit dari duduknya dan menghampiri saya.

"Duh, bilang aja udah tutup kantornya, pa. " Ujar saya sebelum papa sempat bertanya.

Papa diam saja. Disibaknya sedikit tirai jendela. Mengintai sosok sang tamu.

"Kayaknya dia punya urusan penting deh, Fan. Udah terima aja deh. Kasihan, malam-malam ke rumah masa gak ketemu kamu." Ujar papa kemudian sambil menutup tirai jendela.

Saya terpaksa mengangguk. Yah, walaupun sedikit sebal tapi saya percaya sama naluri papa yang kadang bisa setajam silet. Apalagi papa saya cukup lihai dalam menilai watak seseorang.



Begitu yakinnya papa akan sang klien, pintu pagar pun dibuka oleh beliau. Dipersilakannya sang klien masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah basa-basi sejenak dengan saya, klien itu pun mulai menceritakan maksud kedatangannya.

Ternyata, dia mau buat akte Hibah. Neneknya punya sejumlah uang dan perhiasan yang ingin dihibahkan kepada 2 orang cucunya. Salah satunya adalah dia.

Setelah menanyakan fee dan syarat-syarat yang dibutuhkan, dia pun pulang dengan janji akan membawa semua dokumen yang saya minta untuk keperluan pembuatan akte Hibah.

Begitu dia pulang, saya pun melanjutkan bacaan saya. Sama sekali tak berharap klien itu akan datang lagi untuk membuat akte di kantor saya. Soalnya, sudah terlalu sering kedatangan klien yang cuma TTD = tanya-tanya doang.

Maka, ketika keesokan harinya dia muncul lagi sambil membawa dokumen yang dibutuhkan, saya sempat kaget juga. Saya ceritakan kepada papa saya. Dan, papa hanya tersenyum.

Beberapa hari yang lalu, akte Hibah yang ia minta sudah ditandatangani. Bahkan, bukan hanya 1 akta Hibah, melainkan 2 akte karena adiknya juga diberikan hibah oleh neneknya. Sekali tepuk dua lalat kena.

Well, naluri seorang ayah memang tidak bisa disepelekan. Bisa-bisanya, papa saya yakin kalau klien yang nyaris ditolak itu adalah klien yang serius mau buat akte.


NALURI SEORANG AYAH

Dalam postingan KLIEN MALAM HARI , saya pernah menceritakan kalau saya malas terima klien malam hari. Tapi, yang namanya rejeki memang tidak bisa ditentukan oleh waktu. Rejeki bisa datang setiap saat dan bisa pergi setiap detik.

Suatu malam, saya sedang asik membaca koran ketika pintu pagar diketuk. Saya langsung menebak, jangan-jangan klien nih. Kebetulan, papa saya sedang ada di ruang tamu. Papa bangkit dari duduknya dan menghampiri saya.

"Duh, bilang aja udah tutup kantornya, pa. " Ujar saya sebelum papa sempat bertanya.

Papa diam saja. Disibaknya sedikit tirai jendela. Mengintai sosok sang tamu.

"Kayaknya dia punya urusan penting deh, Fan. Udah terima aja deh. Kasihan, malam-malam ke rumah masa gak ketemu kamu." Ujar papa kemudian sambil menutup tirai jendela.

Saya terpaksa mengangguk. Yah, walaupun sedikit sebal tapi saya percaya sama naluri papa yang kadang bisa setajam silet. Apalagi papa saya cukup lihai dalam menilai watak seseorang.



Begitu yakinnya papa akan sang klien, pintu pagar pun dibuka oleh beliau. Dipersilakannya sang klien masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah basa-basi sejenak dengan saya, klien itu pun mulai menceritakan maksud kedatangannya.

Ternyata, dia mau buat akte Hibah. Neneknya punya sejumlah uang dan perhiasan yang ingin dihibahkan kepada 2 orang cucunya. Salah satunya adalah dia.

Setelah menanyakan fee dan syarat-syarat yang dibutuhkan, dia pun pulang dengan janji akan membawa semua dokumen yang saya minta untuk keperluan pembuatan akte Hibah.

Begitu dia pulang, saya pun melanjutkan bacaan saya. Sama sekali tak berharap klien itu akan datang lagi untuk membuat akte di kantor saya. Soalnya, sudah terlalu sering kedatangan klien yang cuma TTD = tanya-tanya doang.

Maka, ketika keesokan harinya dia muncul lagi sambil membawa dokumen yang dibutuhkan, saya sempat kaget juga. Saya ceritakan kepada papa saya. Dan, papa hanya tersenyum.

Beberapa hari yang lalu, akte Hibah yang ia minta sudah ditandatangani. Bahkan, bukan hanya 1 akta Hibah, melainkan 2 akte karena adiknya juga diberikan hibah oleh neneknya. Sekali tepuk dua lalat kena.

Well, naluri seorang ayah memang tidak bisa disepelekan. Bisa-bisanya, papa saya yakin kalau klien yang nyaris ditolak itu adalah klien yang serius mau buat akte.


Kamis, 10 September 2009

TERPAKSA NOLAK ORDER

Tidak semua permintaan bikin akte dari klien bisa dikerjakan. Seperti kejadian yang baru saya alami tadi pagi. Ada klien mau menyewa sebuah ruko untuk kantor cabangnya. Tapi, ketika saya minta data-data objek yang disewakan, sang klien bilang, ruko tersebut dioper sewa ke dia. Jadi, semula ruko itu disewa oleh PT. A dari PT. B (pemilik ruko tersebut), tetapi oleh PT. A disewakan lagi ke klien tersebut.

Bila terjadi demikian maka PT. B selaku pemilik ruko harus memberi persetujuan tertulis bahwa ia setuju rukonya dioper sewa ke pihak lain. Selaku Notaris, saya juga harus melihat akta perjanjian sewa antara PT. A dan PT. B. Benarkah ada klausul yang menyatakan bahwa ruko tersebut boleh dioper sewa oleh si penyewa?

Tapi apa jawab sang klien?



"PT. B gak bisa kasih persetujuan karena dalam perjanjian sewanya juga yang tanda tangan bukan PT. B tetapi PT. C selaku anak perusahaan dari PT. B. Jadi, nanti kalo saya bikin akte sewa di kantor ibu, yang teken juga si PT. C."

Wah, hebat bener! Pikir saya. Masa, bukan pemilik bisa tanda tangan akte sewanya. Meskipun anak perusahaan tetap saja itu badan hukum yang berbeda. Akhirnya, saya minta copy perjanjian sewa antara PT. A dengan PT. B. Benarkah yang tanda tangan di akte tersebut adalah PT. A dengan PT. C ? Karena bisa saja itu terjadi bila PT. B memberi kuasa kepada PT. C untuk tanda tangan akta.

Tetapi, tampaknya sang klien tak bisa menunjukkan perjanjian sewa tersebut. Terpaksa deh saya tolak permintaannya bikin akte sewa di tempat saya. Walaupun dia ngotot, tetap tidak bisa dipenuhi keinginannya. Toh, yang saya lakukan adalah untuk kepentingan dia juga. Bagaimana kalau di tengah masa sewa, PT. B selaku pemilik berniat jahat dan mengatakan bahwa akte sewa tidak sah karena yang tanda tangan akte bukan mereka, melainkan PT. C. Kecuali mereka memberi kuasa kepada PT. C untuk teken akte.

Biarin deh dikatain Notaris sakleg. Yang penting, saya menjalankan tugas sesuai rambu-rambu hukum yang berlaku. Apalagi jika yang saya lakukan demi keamanan dan kepentingan sang klien. Yah, saya memang lebih memilih sedikit job (tapi safe) ketimbang banyak job tapi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.


TERPAKSA NOLAK ORDER

Tidak semua permintaan bikin akte dari klien bisa dikerjakan. Seperti kejadian yang baru saya alami tadi pagi. Ada klien mau menyewa sebuah ruko untuk kantor cabangnya. Tapi, ketika saya minta data-data objek yang disewakan, sang klien bilang, ruko tersebut dioper sewa ke dia. Jadi, semula ruko itu disewa oleh PT. A dari PT. B (pemilik ruko tersebut), tetapi oleh PT. A disewakan lagi ke klien tersebut.

Bila terjadi demikian maka PT. B selaku pemilik ruko harus memberi persetujuan tertulis bahwa ia setuju rukonya dioper sewa ke pihak lain. Selaku Notaris, saya juga harus melihat akta perjanjian sewa antara PT. A dan PT. B. Benarkah ada klausul yang menyatakan bahwa ruko tersebut boleh dioper sewa oleh si penyewa?

Tapi apa jawab sang klien?



"PT. B gak bisa kasih persetujuan karena dalam perjanjian sewanya juga yang tanda tangan bukan PT. B tetapi PT. C selaku anak perusahaan dari PT. B. Jadi, nanti kalo saya bikin akte sewa di kantor ibu, yang teken juga si PT. C."

Wah, hebat bener! Pikir saya. Masa, bukan pemilik bisa tanda tangan akte sewanya. Meskipun anak perusahaan tetap saja itu badan hukum yang berbeda. Akhirnya, saya minta copy perjanjian sewa antara PT. A dengan PT. B. Benarkah yang tanda tangan di akte tersebut adalah PT. A dengan PT. C ? Karena bisa saja itu terjadi bila PT. B memberi kuasa kepada PT. C untuk tanda tangan akta.

Tetapi, tampaknya sang klien tak bisa menunjukkan perjanjian sewa tersebut. Terpaksa deh saya tolak permintaannya bikin akte sewa di tempat saya. Walaupun dia ngotot, tetap tidak bisa dipenuhi keinginannya. Toh, yang saya lakukan adalah untuk kepentingan dia juga. Bagaimana kalau di tengah masa sewa, PT. B selaku pemilik berniat jahat dan mengatakan bahwa akte sewa tidak sah karena yang tanda tangan akte bukan mereka, melainkan PT. C. Kecuali mereka memberi kuasa kepada PT. C untuk teken akte.

Biarin deh dikatain Notaris sakleg. Yang penting, saya menjalankan tugas sesuai rambu-rambu hukum yang berlaku. Apalagi jika yang saya lakukan demi keamanan dan kepentingan sang klien. Yah, saya memang lebih memilih sedikit job (tapi safe) ketimbang banyak job tapi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.


Selasa, 08 September 2009

KLIEN MALAM HARI

Salah satu kelemahan berkantor di rumah adalah sering didatangi klien pada malam hari. Padahal jam kantor sudah berakhir sejak pukul 17.00 tapi tetap saja ada klien yang nekad nongol di atas jam itu.

Di masa-masa awal saya membuka kantor Notaris, saya masih meladeni klien-klien yang datang di atas jam 17.00. Karena saya pikir, baru buka kantor tentunya harus cari klien sebanyak mungkin. Tetapi, lambat-laun saya merasa terganggu juga.

Lagi enak-enak istirahat baca koran, tiba-tiba didatangi klien. Sedang asik menikmati makan malam bersama keluarga, pintu pagar diketuk. Padahal klien yang datang malam hari ini seringkali cuma nanya-nanya doang alias konsultasi gratis. Kadang, yang ditanyakan diluar kewenangan saya sebagai Notaris. Misalnya saja, ada klien yang datang menanyakan kasus perceraian.



Karena saya bukan pengacara maka saya jelaskan kalau ingin menggugat cerai bisa meminta bantuan pengacara. Tapi setelah dijelaskan, sang klien masih belum puas. Dia malah bertanya yang lainnya tentang hak-hak seorang isteri jika bercerai dengan pasangannya. Lalu, curhat segala macam mengenai suaminya, pembagian harta setelah cerai, etc.

Yang bertanya pun bukan satu orang. Kakak dan ibunya yang mendampinginya ikut bertanya aneka ragam. Dasar saya masih Notaris culun, semua pertanyaan dan percakapan enggak penting itu saya ladeni sampai jam menunjukkan pukul 22 malam.

Mata rasanya sudah berat banget. Mana ruang tamu saya banyak nyamuknya karena pintu depan sempat terbuka lebar. Dan….saya enggak mungkin menyemprotkan Baygon di saat percakapan sedang berlangsung. Kan enggak sopan. Ntar mereka pikir, saya mengusir mereka secara halus.

Tetapi ternyata gigitan para nyamuk kelaparan di tubuh mereka secara tak langsung membuat mereka nggak betah duduk berlama-lama. Tangan mereka sibuk menepuk bagian-bagian tubuh yang digigit nyamuk. Alhasil, mereka pamit sendiri karena nggak tahan dikerubungi nyamuk dan mulut mereka juga menguap berkali-kali.

Sejak kejadian itu, saya berjanji ENGGAK AKAN MAU TERIMA KLIEN MALAM HARI LAGI. Saya bilang ke pembantu saya agar menolak klien-klien yang nongol di atas jam 17. Bilang saja, kantor sudah tutup. Kalau mau ketemu bu Notaris, besok aja. Begitu pesan saya pada pembantu.

Namun hal ini tidak bisa diterapkan kalau yang nongol adalah teman-teman saya yang saya kenal dekat. Yah, demi persahabatan saya nggak mungkin menolak mereka. Sementara mau meminta mereka datang besok pagi atau siang, mereka yang nggak bisa karena harus masuk kantor. Enggak bisa bolos atau cuti hanya karena mau konsultasi dengan saya.

Terkadang, saya ambil jalan tengah. Meminta mereka ketemu di mal hari Sabtu atau Minggu. Dan..cara ini lumayan berhasil. Setidaknya jam istirahat saya di malam hari tidak terusik.


KLIEN MALAM HARI

Salah satu kelemahan berkantor di rumah adalah sering didatangi klien pada malam hari. Padahal jam kantor sudah berakhir sejak pukul 17.00 tapi tetap saja ada klien yang nekad nongol di atas jam itu.

Di masa-masa awal saya membuka kantor Notaris, saya masih meladeni klien-klien yang datang di atas jam 17.00. Karena saya pikir, baru buka kantor tentunya harus cari klien sebanyak mungkin. Tetapi, lambat-laun saya merasa terganggu juga.

Lagi enak-enak istirahat baca koran, tiba-tiba didatangi klien. Sedang asik menikmati makan malam bersama keluarga, pintu pagar diketuk. Padahal klien yang datang malam hari ini seringkali cuma nanya-nanya doang alias konsultasi gratis. Kadang, yang ditanyakan diluar kewenangan saya sebagai Notaris. Misalnya saja, ada klien yang datang menanyakan kasus perceraian.



Karena saya bukan pengacara maka saya jelaskan kalau ingin menggugat cerai bisa meminta bantuan pengacara. Tapi setelah dijelaskan, sang klien masih belum puas. Dia malah bertanya yang lainnya tentang hak-hak seorang isteri jika bercerai dengan pasangannya. Lalu, curhat segala macam mengenai suaminya, pembagian harta setelah cerai, etc.

Yang bertanya pun bukan satu orang. Kakak dan ibunya yang mendampinginya ikut bertanya aneka ragam. Dasar saya masih Notaris culun, semua pertanyaan dan percakapan enggak penting itu saya ladeni sampai jam menunjukkan pukul 22 malam.

Mata rasanya sudah berat banget. Mana ruang tamu saya banyak nyamuknya karena pintu depan sempat terbuka lebar. Dan….saya enggak mungkin menyemprotkan Baygon di saat percakapan sedang berlangsung. Kan enggak sopan. Ntar mereka pikir, saya mengusir mereka secara halus.

Tetapi ternyata gigitan para nyamuk kelaparan di tubuh mereka secara tak langsung membuat mereka nggak betah duduk berlama-lama. Tangan mereka sibuk menepuk bagian-bagian tubuh yang digigit nyamuk. Alhasil, mereka pamit sendiri karena nggak tahan dikerubungi nyamuk dan mulut mereka juga menguap berkali-kali.

Sejak kejadian itu, saya berjanji ENGGAK AKAN MAU TERIMA KLIEN MALAM HARI LAGI. Saya bilang ke pembantu saya agar menolak klien-klien yang nongol di atas jam 17. Bilang saja, kantor sudah tutup. Kalau mau ketemu bu Notaris, besok aja. Begitu pesan saya pada pembantu.

Namun hal ini tidak bisa diterapkan kalau yang nongol adalah teman-teman saya yang saya kenal dekat. Yah, demi persahabatan saya nggak mungkin menolak mereka. Sementara mau meminta mereka datang besok pagi atau siang, mereka yang nggak bisa karena harus masuk kantor. Enggak bisa bolos atau cuti hanya karena mau konsultasi dengan saya.

Terkadang, saya ambil jalan tengah. Meminta mereka ketemu di mal hari Sabtu atau Minggu. Dan..cara ini lumayan berhasil. Setidaknya jam istirahat saya di malam hari tidak terusik.


Rabu, 02 September 2009

KURIR TUKANG TILEP

Saya punya pengalaman buruk dengan kurir saya yang sering diberi tugas untuk mengantar surat/dokumen kepada klien. Suatu ketika, saya minta dia untuk membayar uang sebesar Rp.200.000,- ke kasir suatu instansi pemerintah. Bukti pembayaran uang tersebut sangat diperlukan untuk proses pengesahan sebuah Perseroan Terbatas yang sedang saya urus.

Tetapi sampai 1 minggu lamanya, sang kurir tidak juga memberikan bukti pembayaran tersebut. Sementara, karena sibuk saya juga tidak ingat telah meminta dia melakukan pembayaran. Hingga suatu hari, ketika saya sedang mengecek dokumen PT ybs, saya baru sadar ternyata bukti pembayarannya belum ada.

Saya tanyakan ke kurir tersebut tapi waktu itu dia sedang cuti. Ponselnya tidak aktif. Saya kelabakan. Karena ternyata salinan akta PT tersebut juga masih dipegang sama dia. Salinan akta itu dipinjam untuk ditunjukkan kepada petugas Dept. Kehakiman pada waktu pembayaran uang tersebut. Memang sih bisa di print ulang, tapi kan pemborosan waktu, tenaga dan kertas/pita. Lagipula, yang terpenting adalah bukti pembayarannya.



Akhirnya, saya telpon ke temannya yang kebetulan saya kenal juga. Ternyata, kata temannya, kurir saya itu sedang terlibat hutang dengan sebuah bank karena dia sering kredit barang elektronik. Dia tidak menyalakan ponselnya karena takut pada Debt Collector yang mengejarnya. Pantesan! Pikir saya kaget. Berarti uang Rp.200.000,- itu di tilep dia dong.

Tak lama kemudian, ketika dia masuk kantor, saya langsung menginterogasi dirinya. Dia mengaku telah memakai uang tersebut dan berjanji akan membayarnya. Tetapi saya tahu kemungkinannya kecil. Akhirnya, saya bilang dipotong saja sama honor kamu.

Sejak itu, saya tidak pernah percaya lagi sama dia. Untuk urusan pembayaran saya serahkan pada staf yang satu lagi. Kadang, saya turun tangan sendiri.

Padahal, dulu ketika belum menikah kurir saya ini sangat jujur. Saya sering menyuruh dia menyetor uang untuk pengurusan dokumen dan ijin-ijin sampai jutaan rupiah, tapi lancar-lancar saja. Menurut ceritanya, isterinya sering minta dibelikan aneka barang elektronik. TV maunya yang layar datar. Kulkas minta diganti dan lain-lain.

Lha, kalau mau dituruti yaaa..enggak ada abisnya. Saya hanya bisa menasihati dia agar bisa mengatur keuangannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

Kejadian yang saya alami masih tidak seberapa parah. Saya pernah dengar ada rekan notaris yang uang kliennya untuk bayar PPH dan BPHTB dibawa kabur oleh karyawannya. Jumlahnya pun sangat besar. Terpaksa deh, rekan Notaris ini merogoh koceknya sendiri untuk menggantikan uang tersebut.

Hmm, hare genee...memang tidak bisa terlalu percaya sama karyawan. Apalagi kalau urusan duit.


KURIR TUKANG TILEP

Saya punya pengalaman buruk dengan kurir saya yang sering diberi tugas untuk mengantar surat/dokumen kepada klien. Suatu ketika, saya minta dia untuk membayar uang sebesar Rp.200.000,- ke kasir suatu instansi pemerintah. Bukti pembayaran uang tersebut sangat diperlukan untuk proses pengesahan sebuah Perseroan Terbatas yang sedang saya urus.

Tetapi sampai 1 minggu lamanya, sang kurir tidak juga memberikan bukti pembayaran tersebut. Sementara, karena sibuk saya juga tidak ingat telah meminta dia melakukan pembayaran. Hingga suatu hari, ketika saya sedang mengecek dokumen PT ybs, saya baru sadar ternyata bukti pembayarannya belum ada.

Saya tanyakan ke kurir tersebut tapi waktu itu dia sedang cuti. Ponselnya tidak aktif. Saya kelabakan. Karena ternyata salinan akta PT tersebut juga masih dipegang sama dia. Salinan akta itu dipinjam untuk ditunjukkan kepada petugas Dept. Kehakiman pada waktu pembayaran uang tersebut. Memang sih bisa di print ulang, tapi kan pemborosan waktu, tenaga dan kertas/pita. Lagipula, yang terpenting adalah bukti pembayarannya.



Akhirnya, saya telpon ke temannya yang kebetulan saya kenal juga. Ternyata, kata temannya, kurir saya itu sedang terlibat hutang dengan sebuah bank karena dia sering kredit barang elektronik. Dia tidak menyalakan ponselnya karena takut pada Debt Collector yang mengejarnya. Pantesan! Pikir saya kaget. Berarti uang Rp.200.000,- itu di tilep dia dong.

Tak lama kemudian, ketika dia masuk kantor, saya langsung menginterogasi dirinya. Dia mengaku telah memakai uang tersebut dan berjanji akan membayarnya. Tetapi saya tahu kemungkinannya kecil. Akhirnya, saya bilang dipotong saja sama honor kamu.

Sejak itu, saya tidak pernah percaya lagi sama dia. Untuk urusan pembayaran saya serahkan pada staf yang satu lagi. Kadang, saya turun tangan sendiri.

Padahal, dulu ketika belum menikah kurir saya ini sangat jujur. Saya sering menyuruh dia menyetor uang untuk pengurusan dokumen dan ijin-ijin sampai jutaan rupiah, tapi lancar-lancar saja. Menurut ceritanya, isterinya sering minta dibelikan aneka barang elektronik. TV maunya yang layar datar. Kulkas minta diganti dan lain-lain.

Lha, kalau mau dituruti yaaa..enggak ada abisnya. Saya hanya bisa menasihati dia agar bisa mengatur keuangannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

Kejadian yang saya alami masih tidak seberapa parah. Saya pernah dengar ada rekan notaris yang uang kliennya untuk bayar PPH dan BPHTB dibawa kabur oleh karyawannya. Jumlahnya pun sangat besar. Terpaksa deh, rekan Notaris ini merogoh koceknya sendiri untuk menggantikan uang tersebut.

Hmm, hare genee...memang tidak bisa terlalu percaya sama karyawan. Apalagi kalau urusan duit.