Saya punya pengalaman buruk dengan kurir saya yang sering diberi tugas untuk mengantar surat/dokumen kepada klien. Suatu ketika, saya minta dia untuk membayar uang sebesar Rp.200.000,- ke kasir suatu instansi pemerintah. Bukti pembayaran uang tersebut sangat diperlukan untuk proses pengesahan sebuah Perseroan Terbatas yang sedang saya urus.
Tetapi sampai 1 minggu lamanya, sang kurir tidak juga memberikan bukti pembayaran tersebut. Sementara, karena sibuk saya juga tidak ingat telah meminta dia melakukan pembayaran. Hingga suatu hari, ketika saya sedang mengecek dokumen PT ybs, saya baru sadar ternyata bukti pembayarannya belum ada.
Saya tanyakan ke kurir tersebut tapi waktu itu dia sedang cuti. Ponselnya tidak aktif. Saya kelabakan. Karena ternyata salinan akta PT tersebut juga masih dipegang sama dia. Salinan akta itu dipinjam untuk ditunjukkan kepada petugas Dept. Kehakiman pada waktu pembayaran uang tersebut. Memang sih bisa di print ulang, tapi kan pemborosan waktu, tenaga dan kertas/pita. Lagipula, yang terpenting adalah bukti pembayarannya.
Akhirnya, saya telpon ke temannya yang kebetulan saya kenal juga. Ternyata, kata temannya, kurir saya itu sedang terlibat hutang dengan sebuah bank karena dia sering kredit barang elektronik. Dia tidak menyalakan ponselnya karena takut pada Debt Collector yang mengejarnya. Pantesan! Pikir saya kaget. Berarti uang Rp.200.000,- itu di tilep dia dong.
Tak lama kemudian, ketika dia masuk kantor, saya langsung menginterogasi dirinya. Dia mengaku telah memakai uang tersebut dan berjanji akan membayarnya. Tetapi saya tahu kemungkinannya kecil. Akhirnya, saya bilang dipotong saja sama honor kamu.
Sejak itu, saya tidak pernah percaya lagi sama dia. Untuk urusan pembayaran saya serahkan pada staf yang satu lagi. Kadang, saya turun tangan sendiri.
Padahal, dulu ketika belum menikah kurir saya ini sangat jujur. Saya sering menyuruh dia menyetor uang untuk pengurusan dokumen dan ijin-ijin sampai jutaan rupiah, tapi lancar-lancar saja. Menurut ceritanya, isterinya sering minta dibelikan aneka barang elektronik. TV maunya yang layar datar. Kulkas minta diganti dan lain-lain.
Lha, kalau mau dituruti yaaa..enggak ada abisnya. Saya hanya bisa menasihati dia agar bisa mengatur keuangannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.
Kejadian yang saya alami masih tidak seberapa parah. Saya pernah dengar ada rekan notaris yang uang kliennya untuk bayar PPH dan BPHTB dibawa kabur oleh karyawannya. Jumlahnya pun sangat besar. Terpaksa deh, rekan Notaris ini merogoh koceknya sendiri untuk menggantikan uang tersebut.
Hmm, hare genee...memang tidak bisa terlalu percaya sama karyawan. Apalagi kalau urusan duit.
Memang Fan, jangan terlalu percaya org utk urusan duit. Karena manusia itu bisa berubah setiap waktu. wah...kerja jadi kurir bisa beli TV layar datar ya? TVku aja masih yg tabung...
BalasHapusSungguh memprihatinkan....
BalasHapusduh.., paling gak enak di tipu kyk gt.., masalanya saya jg sering dimanfaatin sm orang2 yg gak bertanggung jwb kyk gt..
BalasHapustp buat pengalaman juga, sabar aja bro..
namanya juga manusia kalo kurang kuat imannya - uang sekecil apapun di tilep
BalasHapusTak semua orang bisa kita percaya sobat.
BalasHapusPesan untuk kita semua ... agar lebih waspada dan hati2.
BalasHapusSalam
Iseng-iseng mampir disini, kalau kurang kurir saya mau daftar nih..percaya deh..saya orang jujur, baik hati dan tidak sombong..he..he
BalasHapus@noor : muji diri sendiri ni yeee.
BalasHapusKalo mo ngelamar kerja..mesti kasih tau yang baik2 dong...! namanya juga usaha..he..he
BalasHapus