Tidak semua permintaan bikin akte dari klien bisa dikerjakan. Seperti kejadian yang baru saya alami tadi pagi. Ada klien mau menyewa sebuah ruko untuk kantor cabangnya. Tapi, ketika saya minta data-data objek yang disewakan, sang klien bilang, ruko tersebut dioper sewa ke dia. Jadi, semula ruko itu disewa oleh PT. A dari PT. B (pemilik ruko tersebut), tetapi oleh PT. A disewakan lagi ke klien tersebut.
Bila terjadi demikian maka PT. B selaku pemilik ruko harus memberi persetujuan tertulis bahwa ia setuju rukonya dioper sewa ke pihak lain. Selaku Notaris, saya juga harus melihat akta perjanjian sewa antara PT. A dan PT. B. Benarkah ada klausul yang menyatakan bahwa ruko tersebut boleh dioper sewa oleh si penyewa?
Tapi apa jawab sang klien?
"PT. B gak bisa kasih persetujuan karena dalam perjanjian sewanya juga yang tanda tangan bukan PT. B tetapi PT. C selaku anak perusahaan dari PT. B. Jadi, nanti kalo saya bikin akte sewa di kantor ibu, yang teken juga si PT. C."
Wah, hebat bener! Pikir saya. Masa, bukan pemilik bisa tanda tangan akte sewanya. Meskipun anak perusahaan tetap saja itu badan hukum yang berbeda. Akhirnya, saya minta copy perjanjian sewa antara PT. A dengan PT. B. Benarkah yang tanda tangan di akte tersebut adalah PT. A dengan PT. C ? Karena bisa saja itu terjadi bila PT. B memberi kuasa kepada PT. C untuk tanda tangan akta.
Tetapi, tampaknya sang klien tak bisa menunjukkan perjanjian sewa tersebut. Terpaksa deh saya tolak permintaannya bikin akte sewa di tempat saya. Walaupun dia ngotot, tetap tidak bisa dipenuhi keinginannya. Toh, yang saya lakukan adalah untuk kepentingan dia juga. Bagaimana kalau di tengah masa sewa, PT. B selaku pemilik berniat jahat dan mengatakan bahwa akte sewa tidak sah karena yang tanda tangan akte bukan mereka, melainkan PT. C. Kecuali mereka memberi kuasa kepada PT. C untuk teken akte.
Biarin deh dikatain Notaris sakleg. Yang penting, saya menjalankan tugas sesuai rambu-rambu hukum yang berlaku. Apalagi jika yang saya lakukan demi keamanan dan kepentingan sang klien. Yah, saya memang lebih memilih sedikit job (tapi safe) ketimbang banyak job tapi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Setuju, Fan! Kalo menurut feeling gak bener, mending kehilangan order. Toh ntar ada gantinya kok!
BalasHapusWah, ribet juga ya oper-oper gitu, kok kliennya ga sadar ya itu nggak baik buat dia. Gpp kok hilang satu klien yg g bener, pasti ada gantinya. Semangat!
BalasHapuswah bener tuh, kerjakan pekerjaan secara profesional biar hasilnya optimal.
BalasHapushehe, baru sekali mampir, takjub saya sama templatenya..., ada motif mirip batik di pojok kanan atas, hikz
ternyata ga cuma di pelayanan publik yg suka ngoper2 - di dunia notaris juga ada ngoper2 - halah memang main bola apa - kok main oper2
BalasHapuskapan indonesia maju kalo kaya gini terus?
prinsip yang bagus mabk fanny, gak cuman money oriented
BalasHapusSALUTE...JEMPOL 4 mbak...:)
BalasHapusmakasih, wel.
BalasHapus